Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai Lembaga Negara Independen?

Moh Rizaldi

Abstract


Demonstrations that took place on a massive and widespread basis for days at the end of 2019, did not trigger lawmakers not to pass Law Number 19 of 2019 (KPK Law). One of the issues highlighted by the amendment to the law is the independence of the Corruption Eradication Commission (KPK). This study aims to correct the independence of the KPK. The research method used is legal research with a statutory approach, conceptual approach, and historical approach. The results of this study concluded that after the changes, The KPK is the auxiliary state organ, in the form of, an quasi independent  state agency. This change has implications for changing the status of KPK employees to state civil apparatus and KPK as objects of the right to inquiry the People's Representative Council (DPR). This research suggests that changes should be made to the KPK Law, especially in the method of decision making in the Supervisory Board. In addition, it is necessary to limit the scope of the DPR's inquiry rights against the KPK.

Demonstrasi yang terjadi secara masif dan meluas selama berhari-hari di akhir tahun 2019, tidak menyulutkan pembentuk undang-undang untuk tidak mengesahkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 (UU KPK). Salah satu isu yang disoroti dari perubahan UU tersebut adalah tentang independensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penelitian ini bertujuan untuk mengoreksi independensi KPK. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian  hukum dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan sejarah. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa sesudah perubahan, KPK berkedudukan sebagai lembaga negara penunjang berjenis kuasi lembaga negara independen. Perubahan tersebut berimplikasi pada berubahnya status pengawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara dan KPK sebagai obyek hak angket Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Penelitian ini menyarankan agar dilakukan perubahan terhadap UU KPK khususnya dalam metode pengambilan keputusan di Dewan Pengawas. Selain itu perlu kiranya membatasi ruang lingkup hak angket DPR terhadap KPK


Keywords


Independen; KPK; Perubahan

References


Charles N. Steele dan Jeffrey H. Bowman, “The Constitutionality of Independent Regulatory Agencies Under the Necessary and Proper Clause: The Case of the Federal Election Commission”, Yale Journal On Regulation,Vol. 4, No. 2, 1987.

Christoph Mollers, 2013, The Three Branches, Britania Raya: Oxford University Press.

Denny Indrayana, 2016, Jangan Bunuh KPK: Kajian Hukum Tata Negara Penguatan Komisi Pemberantasan Korupsi, Malang: Intrans Publishing.

F.S Istanto, 2007, Penelitian Hukum, Yogyakarta: CV. Ganda.

J. Supranto, 2003, Metode Penelitian Hukum Dan Statistik, Jakarta: Rineka Cipta.

Jimly Asshiddiqie, 2020, Pengujian Formil Undang-Undang di Negara Hukum, Jakarta: Konstitusi Press.

Kenneth F. Warren, 2011, Administrative Law In Political System, Amerika Serikat: Westview Press.

Kirtli Datla dan Richard L Revesz, “Deconstructing Independent Agencies (and Executive Agencies)”, Cornell Law Review,Vol. 98, No. 4, 2013.

Madalina Busuioc, “Accountability, Control and Independence: The Case of European Agencies”, European Law Journal, Vol. 15, No.5, 2009.

Mark Thatcher, “Regulation After Delegation: Independent Regulatory Agencies in Europe”, Journal of European Public Policy, Vol. 9, No. 6, 2002.

Marshall J Breger dan Gary J Edles, “Established By Practice: The Theory And Operation Of Independence Federal Agencies”, ADMIN. L. REV, Vol. 52, No. 4, 2000.

Mei Susanto, “Hak Angket Sebagai Fungsi Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat: Kajian Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 36/PUU-XV/2017”, Jurnal Yudisial, 2015,Vol. 11, No. 3, 2018.

Mei Susanto (et.al), “Kekuasaan DPR Dalam Pengisian Pejabat Negara Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia”, Jurnal Penelitian Hukum De Jure, vol. 18, No. 1, 2018.

Paul R Verkuil, “The Purpose And Limits Of Independent Agencies”, Duke Law Journal,Vol. 1988, No. 257, 1998.

Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Susan Rose-Ackerman dan Peter L. Lindseth (ed), 2010, Comparative Administrative Law, Britania Raya: Edward Elgar Publishing Limited

Susi Dwi Harjanti, 2020, Makalah: Menjaga Demokrasi Pembentukan UU.

Saikrishna Bangalore Prakash, 2015, Imperial From the Beginning: The Constitution of the Original Executive, London: Yale University Press.

Zainal Arifin Mochtar, 2017, Lembaga Negara Independen: Dinamika Perkembangan Dan Urgensi Penataannya Kembali Pasca-Amandemen Konstitusi, Depok: Raja Grafindo Persada.




DOI: https://doi.org/10.25134/logika.v12i01.3754

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Logika : Jurnal Penelitian Universitas Kuningan

ISSN 2085-997X (print), ISSN 2715-4505 (online)

Organized by Faculty of Law, Universitas Kuningan, Indonesia.

Website  : https://journal.uniku.ac.id/index.php/logika/index

Email     : logika@uniku.ac.id

Address : Jalan Cut Nyak Dhien No.36A Kuningan, Jawa Barat, Indonesia.

Logika is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0